Universitas Islam Indonesia

Selamat datang di website Universitas Islam Indonesia
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Pendidikan Profesi Tingkatkan Daya Saing Arsitek Indonesia PDF Bookmark and Share Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Monday, 11 April 2016

ImageMenghadapi era pasar bebas tenaga kerja di lingkup ASEAN, para pekerja Indonesia di berbagai bidang profesi akan menemui tantangan yang semakin berat. Untuk dapat bertahan, mereka dituntut untuk terus meningkatkan daya saing dan kompetensi profesionalnya. Salah satu solusi untuk mencapai dua hal itu adalah melalui sertifikasi profesi lewat jenjang pendidikan. Tak terkecuali bagi profesi arsitek. Arsitek merupakan salah satu profesi yang memiliki andil tinggi di bidang jasa konstruksi. Pengenalan pendidikan profesi bagi arsitek dinilai penting agar karya arsitek Indonesia dapat lebih diakui di kancah internasional.

Sebagaimana tergambar dalam acara Pengambilan Sumpah Profesi Arsitek Angkatan III yang digelar oleh Pendidikan Profesi Arsitek UII di Gedung FTSP UII, Senin (11/4). Pengambilan sumpah kali ini diikuti oleh 11 orang arsitek yang telah menyelesaikan pendidikan profesi setidaknya selama 1 tahun di UII. Acara juga dihadiri oleh pengurus Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) serta perwakilan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional dan DIY.

Rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc mengatakan pendidikan profesi arsitek sangat relevan untuk mendorong daya saing arsitek Indonesia di kancah global. Sebab ke depan, hanya arsitek yang memiliki lisensi dan sertifikasi profesi yang karyanya dapat diakui secara kredibel di kalangan jasa kontruksi. “UII menjadi pionir lembaga pendidikan di DIY dan Indonesia yang mula-mula menjalankan pendidikan profesi bagi arsitek”, ujarnya. Di DIY sendiri, sampai saat ini UII masih menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang kontinyu menjalankan pendidikan profesi ini.

Dr. Harsoyo juga menyebutkan jika bangsa ini ingin maju di sektor pembangunan, maka hendaknya dibutuhkan semakin banyak tenaga ahli di bidang konstruksi yang profesional. Sayangnya rasio insinyur berbanding 1 juta penduduk di Indonesia masih rendah, hanya 2.671 insinyur terhadap 1 juta penduduk. Sedangkan Korea punya 25.000 insinyur per 1 juta penduduk, Malaysia 3.333 insinyur, dan Tiongkok 5.000 insinyur. Oleh karena itu, pendidikan untuk mencetak sarjana dan ahli konstruksi harus terus didorong.

Ketua Dewan Kehormatan IAI Nasional, Ir. Munichy B. Edrees, M.Arch, IAI juga mengungkapkan keprihatinan atas masih rendahnya jumlah tenaga ahli konstruksi di Indonesia. “Ketika praktik di luar negeri, saya sering prihatin karya-karya hebat arsitek kita di luar sering diatasnamakan arsitek asing karena arsitek kita minim dalam hal sertifikasi dan lisensi profesi yang diakui secara global”, katanya. Dalam waktu dekat Indonesia akan memiliki UU Arsitek, setelah sebelumnya menerbitkan UU Insinyur. Menurutnya, profesi arsitek juga butuh regulasi agar praktek profesi ini lebih dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Ia juga berpesan agar para arsitek muda UII tidak lekas puas hanya dengan memiliki sertifikat profesi. Ke depan ia berharap mereka juga bersemangat untuk memiliki sertifikasi profesi setingkat ASEAN sehingga dapat berkarya dan bersaing dengan arsitek-arsitek asing di lingkup Asia Tenggara.




Share this Article ...
Live!Facebook!twitter!MySpace!Furl!Yahoo!
 
< Prev   Next >
About University
Campus Facilities
Centers and Departments
Directorate
Faculty and Programmes
Laboratory
Prospective Students
Student Affairs
Scholarship
Media Relations
Pemilu UII 2017
Contact
Web Directory
Blog
Email
Map of Campus
Site Map
Disable Campus Map