Universitas Islam Indonesia

Selamat datang di website Universitas Islam Indonesia
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Brexit Diprediksi Tidak Akan Pengaruhi Integritas ASEAN PDF Bookmark and Share Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Tuesday, 28 June 2016

Image
http://www.globalresearch.ca
Keputusan publik Inggris yang menginginkan agar negaranya keluar dari Uni Eropa sontak membuat publik dunia tercengang. Inggris yang sudah bergabung selama 43 tahun dalam organisasi supranasional tersebut sekaligus menjadi negara pertama yang memisahkan diri dari Uni Eropa. Keluarnya Inggris dari Uni Eropa juga menjadi sinyalemen bahwa organisasi regional yang sesolid Uni Eropa pun rentan akan perpecahan. Ini tentunya menjadi perhatian bagi organisasi regional lain yang menjadikan Uni Eropa sebagai bahan rujukan ideal. ASEAN sebagai organisasi regional Asia Tenggara yang kini tengah membangun integrasi regional juga sedikit banyak merujuk pada model pengembangan Uni Eropa. Namun demikian, Brexit diprediksi tidak akan berpengaruh pada integritas ASEAN ke depan.

Demikian disampaikan peneliti Hubungan Internasional UII, Enggar Furi Herdianto, S.IP, MA, menanggapi isu pengaruh Brexit terhadap integritas ASEAN. Ia berpendapat meski selama ini progres ASEAN sering disandingkan dengan UE, namun kedua organisasi pada dasarnya memiliki perbedaan yang fundamental. Dari perbedaan inilah, ia beranggapan ASEAN dinilai akan lebih solid dalam mempertahankan keberadaan anggotanya.

“Uni Eropa tumbuh dari kebutuhan untuk mendorong integrasi dan pengembangan ekonomi di antara negara-negara Eropa daratan. Inilah yang menjadi magnet penarik bagi Inggris yang notabene terpisah dari Eropa daratan untuk bergabung”, ungkapnya. Namun seiring dengan perkembangannya, corak Uni Eropa mulai bergerak ke integrasi politik dengan mengeluarkan serangkaian kebijakan yang mengikat bagi negara anggota. Kebijakan tersebut kerap berbenturan dengan kepentingan nasional Inggris.

Sebaliknya, ASEAN justru berangkat dari kesadaran mengintegrasikan negara-negara Asia Tenggara secara politik yakni membentengi kawasan dari penyebaran ideologi komunis semasa Perang Dingin. “Pasca Perang Dingin, barulah ASEAN merangkul Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja untuk bergabung. Meski berbeda ideologi, sesama anggota ASEAN tetap dapat menjaga hubungan baik”, imbuhnya. Integrasi politik ini menurutnya menjadi modal pengikat yang kuat bagi anggota ASEAN.

Selain itu, Enggar Furi juga menilai kedua organisasi mempunyai model pengambilan kebijakan yang berbeda. Uni Eropa dikenal dengan sistem supranasionalnya di mana organisasi tersebut memang diposisikan sebagai pemerintahan di atas negara. Uni Eropa menganut sistem voting untuk mengambil kebijakan di tingkat regional.

“Sedangkan ASEAN, lebih memilih menjalankan sistem intergovernmental yang menempatkan negara anggota secara sejajar satu sama lain. Keputusan di tingkat organisasi juga diambil melalui musyawarah mufakat yang harus mendapat persetujuan dari seluruh anggota. Artinya setiap anggota tidak akan merasa dikesampingkan kepentingan nasionalnya”, jelasnya.

Ditambah lagi, ASEAN juga menganut prinsip non intervensi atau tidak akan mencampuri urusan domestik negara anggotanya. Sederet fakta inilah yang dinilainya mampu membuat ASEAN lebih solid. Meski demikian, Enggar Furi juga mengingatkan adanya tingkat disparitas di antara sesama anggota ASEAN sebagai hal yang perlu diwaspadai ke depan.




Share this Article ...
Live!Facebook!twitter!MySpace!Furl!Yahoo!
 
< Prev   Next >
About University
Campus Facilities
Centers and Departments
Directorate
Faculty and Programmes
Laboratory
Prospective Students
Student Affairs
Scholarship
Media Relations
Pemilu UII 2017
Contact
Web Directory
Blog
Email
Map of Campus
Site Map
Disable Campus Map