Universitas Islam Indonesia

Selamat datang di website Universitas Islam Indonesia
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Caspinara Promis Tingkatkan Produktivitas Kacang Tanah PDF Bookmark and Share Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Tuesday, 20 September 2016

Image
jogpaper.com
Kacang tanah merupakan salah satu komoditas tanaman pangan penting di Indonesia sehingga permintaannya tergolong tinggi. Untuk mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri, seringkali membuat petani kewalahan.

Salah satu penyebab hal itu adalah rendahnya produktivitas kacang tanah dalam negeri. Melihat persoalan tersebut, empat mahasiswa Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII) membuat alat yang diberi nama Caspinara Promis. Mereka adalah Adhe Rizky Anugerah, Nawang Wahyu Widiatmaka, Jatu Sandyakalaning dan Damar Mafatir.

Disampaikan Adhe Rizky Anugerah, alat yang diciptakannya memiliki fungsi sebagai cutting, washing, and spinning machine atau alat untuk memotong, mencuci dan mengeringkan kacang tanah setelah dipanen. “Alat ini bersifat ergonomis untuk meningkatkan produktivitas pasca panen dari tanaman kacang tanah. Karena ternyata rendahnya produktivitas kacang tanah disebabkan proses pasca panen yang lama”, katanya beberapa waktu lalu di kampus UII.

Waktu yang lama itu juga karena para petani masih menggunakan peralatan yang sederhana dan tradisional. Ia juga menjelaskan bahwa proses setelah panen kacang tanah mencakup dua proses yaitu memisahkan kacang dari akarnya dan proses mengeringkan kacang.

Semua proses itu selama ini berlangsung dalam waktu 5-7 hari. Karena proses yang lama itulah terkadang sebagian petani menjual kacang tanah dalam keadaan basah, bahkan belum dicuci. Jika dijual masih dalam keadaan kotor, harga jualnya cenderung anjlok. Sedangkan jika dijual dalam kondisi bersih dan kering, harganya bisa 2-3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kacang basah.

“Untuk itulah alat ini kami buat. Alat ini mengerjakan tiga langkah proses setelah panen dalam waktu yang singkat,” kata Adhe. Menurut Adhe, alat buatan mereka tersebut memiliki dimensi 88 x 54 x 104 cm dan berbahan dasar stainless steel. Alat ini membantu menghasilkan kacang menjadi lebih bersih dan mampu meningkatkan harga jual kacang hingga tiga kali lebih tinggi.

Selain itu, alat ini dirancang dengan pendekatan antropometri untuk mencegah terjadinya cummulative traumadisorder atau rasa pegal yang biasanya dirasakan oleh petani ketika melakukan aktivitas setelah panen. “Caspinara Promis ini juga telah kami perkirakan harga jualnya yakni Rp 4 juta. Harga tersebut terbilang terjangkau untuk sebuah mesin pertanian”, tambahnya.

Sebelumnya ia dan timnya telah mensurvei terkait kemampuan keuangan petani membeli alat. Rata-rata kemampuan mereka antara Rp2 juta-5 juta.

Ditambahkan Nawang, rekan setimnya bahwa, mesin yang mereka buat tersebut juga merupakan hasil survei kebutuhan petani kacang tanah di wilayah Sleman. Mereka mendatangi 30 petani yang ada di berbagai kecamatan, seperti Ngaglik, Cangkringan, dan Ngemplak pada Maret 2016 lalu.

Pada tahap tersebut, mereka mengidentifikasi kriteria alat pertanian setelah panen, khususnya tanaman kacang yang dibutuhkan. Kerja keras mereka dalam merancang dan membuat Caspinara Promis tidak sia-sia. Alat tersebut berhasil meraih medali perak untuk PKM karsa cipta pada ajang PIMNAS 2016 di IPB, Bogor pada Agustus lalu. Untuk hak cipta alat pun kini tengah dalam proses.




Share this Article ...
Live!Facebook!twitter!MySpace!Furl!Yahoo!
 
< Prev   Next >
About University
Campus Facilities
Centers and Departments
Directorate
Faculty and Programmes
Laboratory
Prospective Students
Student Affairs
Scholarship
Media Relations
Pemilu UII 2017
Contact
Web Directory
Blog
Email
Map of Campus
Site Map
Disable Campus Map