Universitas Islam Indonesia

Selamat datang di website Universitas Islam Indonesia
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Pentingnya Membangun Moderasi dalam Beragama PDF Bookmark and Share Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Wednesday, 05 October 2016

ImageIslam hakikatnya terbangun di atas asas moderasi (moderat). Namun seringkali ada beberapa kelompok yang membawa Islam yang moderat tersebut dalam wilayah ekstrimisme (tatharruf). Akhirnya Islam menjadi dibenci oleh kelompok tertentu. Dalam kasus tersebut tentu saja yang salah bukan Islamnya tetapi oknum yang membawa Islam dengan model/pola yang kurang tepat.

Demikin seperti yang disampaikan oleh Guru Besar Zaytunah University dan Menteri Agama Tunisia Periode 2014-2015, Prof. Dr. Mounir Tlili dalam an-Nadwah al-‘Ilmiyyah al-‘Aalamiyyah (Seminar Internasional) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) bertempat di Ruang Sidang FIAI, Kamis, (10/05). Seminar dibuka secara resmi oleh Dekan FIAI, Dr. Tamyiz Mukharrom, MA.

Dalam seminar bertajuk Binaa-u al-I’tidaal fi ad-Diin (Membangun Moderasi dalam Beragama) tersebut Mounir mengawali materinya dengan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Islam diterima dengan baik di Indonesia dan akhirnya menjadi agama mayoritas penduduknya. Bagi Mounir, agama Islam sesungguhnya adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia.

Salah satu karakteristik muslim yang baik, menurut pemaparannya, adalah tidak menyukai kebaikan untuk diri sendiri. Tetapi bagaimana agar kebaikan itu dirasakan oleh orang lain. “Tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri,” tuturnya menyitir hadits Rosulullah SAW.

Bagi Mounir, manusia yang ada di dunia ini bagaikan berada dalam satu bahtera besar (safiinah). Apapun kelompok dan agamanya harus saling bekerjasama menjaga bahtera tersebut. Sebab kalau ada satu pihak yang melubangi bahtera tersebut maka yang celaka adalah semua penumpang bila bahtera lantas tenggelam. Oleh karena itu berbeda pemikiran dan keyakinan bukan alasan untuk saling menjatuhkan dan bertikai hingga menyebatkan rusaknya bahtera.

Dalam konteks membangun moderasi dalam beragama Mounir mengingatkan untuk memahami agama dengan benar dan sempurna. Sebab Islam pada dasarnya sudah moderat. “Ironis sekali ada anak yang mengkafirkan orang tuanya hanya karena berbeda pemahaman dalam hal yang memang diperselisihkan ulama’ (khilaafiyyah),” tandasnya. Oleh karena itu diperlukan pemahaman Islam yang moderat dan toleran untuk kehidupan yang lebih baik.

Terakhir Mounir juga menyampaikan bahwa seringkali Islam dikesankan sebagai agama yang keras karena adanya huduud (seperti hukuman potong tangan, rajam, dan sebagainya). Sementara yang demikian itu sebenarnya bukan asal potong tangan, bukan asal rajam, namun ada syarat-syarat yang harus dipenuhi sampai diterapkannya hukuman tersebut. Dan tujuan inti dari hukuman tersebut bukan potong tangan atau rajamnya namun supaya tidak terjadi lagi hal sama di kemudian hari (efek jera).

Mounir mengisahkan di masa Khalifah Umar bin Khaththab dimana ada seorang yang dilaporkan mencuri. Pelapor menginginkan agar pencuri tersebut dipotong tangannya sebagaimana aturan syari’at. Namun ternyata Umar urung melakukannya karena pertimbangan bahwa pencurian tersebut terjadi di masa paceklik (majaa’ah). Ditambah lagi pencuri tersebut mencuri untuk mencukupi kebutuhan pokoknya saja.




Share this Article ...
Live!Facebook!twitter!MySpace!Furl!Yahoo!
 
< Prev   Next >
About University
Campus Facilities
Centers and Departments
Directorate
Faculty and Programmes
Laboratory
Prospective Students
Student Affairs
Scholarship
Media Relations
Pemilu UII 2017
Contact
Web Directory
Blog
Email
Map of Campus
Site Map
Disable Campus Map