Universitas Islam Indonesia

Selamat datang di website Universitas Islam Indonesia
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Pengukuhan Dua Guru Besar UII Berlangsung Khidmat PDF Bookmark and Share Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Monday, 28 November 2016

ImagePengukuhan dua Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Dr. Ni’matul Huda, SH., M.Hum. dan Prof. Riyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D. berlangsung khidmat di Auditorium Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir UII, pada Senin 28 November 2016. Dengan pengukuhan ini jumlah Guru Besar UII kembali bertambah, dimana sampai saat ini berjumlah 14 Guru Besar dari berbagai bidang keilmuan.

Dalam pengukuhan ini, Prof. Ni’matul Huda menyampaikan pidato berjudul Perkembangan Lembaga Negara dan Sengketa Kewenangan Lembaga Negara Pasca Reformasi. Sedangkan Prof. Riyanto menyampaikan pidato berjudul Peran Elektrokimia Untuk Kemandirian Bangsa. Jalannya sidang terbuka senat pengukuhan Guru Besar UII ini dipimpin oleh Rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc.

Sejumlah akademisi dan praktisi tampak hadir, antara lain Hakim Konstitusi, Prof. Dr. Maria Farida Indrati, SH., MH., Ketua Komisi Yudisial, Dr. Aidul Fitriciada Azhari, S.H., M.Hum., Guru Besar Universitas Andalas, Prof. Dr. Saldi Isra, SH., MPA., Hakim Agung, Dr. Salman Luthan, SH., MH. dan Dr. Artidjo Alkostar, AH., LLM. serta Guru Besar Universiti Kebangsaan Malaysia, Prof. Dr. Mohamed Rozali Othman.

Disampaikan Prof. Ni’matul Huda dalam pidatonya, sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara dapat terjadi karena beberapa hal. Pertama, adanya tumpang tindih (overlapping) kewenangan antara satu lembaga negara dengan lembaga negara lainnya yang diatur dalam konstitusi atau Undang-Undang Dasar. Kedua, adanya kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diperoleh dari konstitusi atau Undang-Undang Dasar yang diabaikan oleh lembaga negara lainnya. 

Sementara yang ketiga menurut Prof. Ni’matul Huda, adanya kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diperoleh dari konstitusi atau Undang-Undang Dasar yang dijalankan oleh lembaga negara lainnya, dan sebagainya.

Dituturkan Prof. Ni’matul Huda, dalam prakteknya, sengketa kewenangan lembaga negara tidak selalu diajukan ke Mahkamah Konstitusi melalui jalur “Sengketa Kewenangan Lembaga Negara”, ada yang diajukan melalui permohonan pengujian undang-undang, tetapi  juga ada yang diajukan bersamaan, yakni melalui pengujian undang-undang sekaligus permohonan sengketa kewenangan lembaga negara.

“Untuk itu, tafsir yang sempit dan restriktif terhadap ketentuan Pasal 24C ayat (1) UUD NRI Tahun 1945 harus ditinjau ulang, untuk menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan zaman,” paparnya.

Prof. Ni’matul Huda menegaskan, urgensitas perluasan para pihak dalam sengketa kewenangan lembaga negara di Mahkamah Konstitusi adalah untuk memberi payung hukum yang jelas terhadap kasus-kasus sengketa kewenangan lembaga negara melalui jalur hukum dan bukan melalui jalur politik.

Sementara dipaparkan Prof. Riyanto dalam pidato ilmiahnya, perlunya membumikan ilmu elektrokimia untuk kemandirian bangsa. Elektrokimiawan menurut Prof. Riyanto, harus menghasilkan karya nyata yang diperlukan oleh masyarakat, bangsa dan negara. Paradigma bahwa ilmu kimia adalah ilmu murni atau basic science yang hanya berkutat pada ranah teori tampaknya harus segera bergeser kepada realitas bahwa ahli kimia harus banyak berperan dalam kehidupan.

ImageProf. Riyanto menuturkan, negara berkembang seperti Indonesia, penguasaan teori yang berlebihan tidaklah sesuai. Bangsa Indonesia memerlukan ilmu yang dapat diaplikasikan untuk menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu tidak dapat dipungkiri bahwa walaupun ilmu kimia merupakan ilmu murni, untuk kasus bangsa Indonesia harus mulai mengarah pada kimia terapan atau applied chemistry atau lebih khusus lagi applied electrochemistry atau elektrokimia terapan.

Jika elektrokimiawan mengabaikan terapan, hakekatnya mengabaikan bangsa Indonesia berada dalam kondisi ketergantungan dengan bangsa lain. Ahli kimia tidak dapat menutup diri dengan kebutuhan masyarakat bangsa dan negara. Secara realita bangsa Indonesia masih menggantungkan barang-barang impor dari luar negeri. “Sumber kekayaan alam banyak dikelola oleh bangsa asing. Banyak keperluan masyarakat yang belum dapat dipenuhi oleh bangsa sendiri,” ungkap Prof. Riyanto.

Prof. Riyanto menambahkan, ilmu elektrokimia dan ilmu-ilmu kimia yang lain sangat erat hubungannya dengan kemandirian bangsa. Manusia memerlukan energi untuk menunjang kehidupan yang lebih baik. Manusia memerlukan energi untuk menjalankan handphone, alat komunikasi, kalkulator, produk mainan, jam, lampu, laktop, mobil listrik, motor listrik, sepeda listrik dan berbagai kegiatan industri. 

”Seiring dengan perkembangan teknologi dan jumlah manusia maka keperluan energi juga semakin canggih dan besar. Pengunaan produksi dalam negeri untuk produk baterai, aki dan fuel cell merupakan dasar dari kemandirian bangsa,” paparnya.




Share this Article ...
Live!Facebook!twitter!MySpace!Furl!Yahoo!
 
< Prev   Next >
About University
Campus Facilities
Centers and Departments
Directorate
Faculty and Programmes
Laboratory
Prospective Students
Student Affairs
Scholarship
Media Relations
Pemilu UII 2017
Contact
Web Directory
Blog
Email
Map of Campus
Site Map
Disable Campus Map