Universitas Islam Indonesia

Selamat datang di website Universitas Islam Indonesia
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Warung Prancis UII Gelar Diskusi Permasalahan Keruangan Perkotaan PDF Bookmark and Share Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Wednesday, 30 November 2016

ImageSemakin kompleksnya permasalahan keruangan perkotaan menjadi topik diskusi menarik. Masalah yang timbul di antaranya semakin mengecilnya ruang fisik dan sosial bagi masyarakat untuk berinteraksi. Hal inilah yang mendasari Warung Prancis (WP UII) untuk menggelar diskusi publik di Djendela Kafe, Jl. Gejayan pada Senin (28/11). Acara diskusi yang bertajuk Bincang-Bincang Kritis ini mengangkat topik “Kita, Kota dan Lefebvre” dengan pembicara Ir. Revianto Budi Santosa, M.Arch., pengajar Prodi Arsitektur, Universitas Islam Indonesia. Diskusi yang dimulai pada pukul 16.00 ini membahas permasalahan ruang perkotaan saat ini dari sudut pandang seorang pemikir Prancis, Henry Lefebvre.

Lefebvre adalah intelektual marxis asal Prancis yang hidup di paruh pertama abad 20. Kontribusi terbesarnya dalam pemikiran modern adalah konsep mutakhir tentang ruang; ruang tidak hanya bersifat fisik, tepi ada juga ruang non fisik. Salah satu ruang non fisik yang sangat penting menurut Lefebvre adalah ruang sosial dimana masyarakat dapat berinteraksi dan memaknai ruang tersebut.

Dalam diskusi kali ini, pembicara menggunakan perspektif Lefebvre untuk melihat kompleksitas masalah keruangan saat ini khususnya di Yogyakarta. Ruang merupakan alat untuk mereproduksi sebuah kekuasaan. Di dalam sebuah ruang, ideologi dilembagakan untuk menopang berlangsungnya sebuah kekuasaan. Oleh karena itu di Yogyakarta, banyak gerakan perlawanan terhadap penguasaan ruang. Revianto menjelaskan “seni mural di Yogya merupakan salah satu bentuk perlawanan terhadap penguasaan ruang oleh pihak-pihak tertentu.”

Masivnya komodifikasi ruang di DIY, sebagai akibat dari kapitalisme, telah merampok hak-hak warga atas kota ini. Sebagai contoh, Jl. Gejayan saat ini lebih mirip ‘museum billboard’, jelas Revianto. Masa depan ruang perkotaan ditentukan oleh developer-developer dengan bantuan para teknokrat seperti arsitek, ahli pemetaan wilayah, para insinyur, dan pemerintah.

Diskusi ini dihadiri oleh mahasiswa dari lintas universitas di Yogyakarta, seperti UII, UGM, dan UKDW. Para peserta sangat antusias dalam menyimak presentasi dari pembicara. Pada sesi tanya jawab, ada peserta yang bertanya mengenai perspektif kiri dalam studi keruangan saat ini. Ada pula peserta yang bertanya mengenai konsepsi ruang yang baik itu seperti apa. Dalam diskusi ini, hadir pula beberapa pengajar Program Studi Arsitektur UII.  Salah satu peserta diskusi, yang juga dosen Arsitektur UII, Ir.Priyo Pratikno, M.T. menjelaskan dengan membaca Lefebvre, masyarakat jangan terlalu berkecil hati dengan gencarnya pencaplokan ruang-ruang perkotaan saat ini. Menurutnya “ada ruang-ruang abstrak yang belum tentu bisa dijamah, seperti yang terjadi pada ruang-ruang fisik.”

Diskusi yang berlangsung kurang lebih dua jam diakhiri dengan pemberian bingkisan untuk tiga penanya terbaik. Selain itu, WP UII juga membagikan beberapa cenderamata bagi para audiens yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kuis di akhir acara.

Ini merupakan kali pertama WP UII menyelenggarakan acara diskusi di luar lingkungan UII. Menurut Koordinator WP, Ginanjar, “diskusi di Djendela Cafe ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dalam menyambut hari jadi WP UII yang pertama.” Secara rutin, kegiatan ini biasanya diselenggarakan di ruang WP, lt.2 Gedung Mohammad Hatta, Kampus Terpadu UII.

 




Share this Article ...
Live!Facebook!twitter!MySpace!Furl!Yahoo!
 
< Prev   Next >
About University
Campus Facilities
Centers and Departments
Directorate
Faculty and Programmes
Laboratory
Prospective Students
Student Affairs
Scholarship
Media Relations
Pemilu UII 2017
Contact
Web Directory
Blog
Email
Map of Campus
Site Map
Disable Campus Map